Angkat Kearifan Lokal Sukolilo, Pojok Literasi Pesisir Surabaya Siapkan "SEA FEST 2026"
Surabaya – Komunitas Pojok Literasi Pesisir Surabaya melakukan audiensi dengan pegiat lingkungan hidup Sukolilo, Bunda Tri, guna membahas persiapan kegiatan "SEA FEST 2026". Kamis 7 Mei 2026
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Tri Eko Sulistiowati pengelola TBM Yayasan Avicenna Berkah tersebut menjadi langkah awal dalam merancang festival literasi dan budaya yang berfokus pada kedaulatan narasi masyarakat nelayan.
Perwakilan Pojok Literasi, Dini dan Jiddah, menyampaikan bahwa kegiatan bertajuk "LITERASEA FEST 2026" ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap perlindungan laut serta kesejahteraan nelayan. Selain itu, festival ini dirancang untuk memfasilitasi potensi kreatif anak-anak pesisir dan memperkuat kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan kota Surabaya.
"Kami ingin mengangkat budaya asli Kampung Nelayan Sukolilo. Melalui audiensi ini, kami berharap dapat berkolaborasi dengan tokoh-tokoh lokal yang memiliki kepedulian serupa terhadap isu maritim," ujar Shalu dalam pesan pembukanya.
Rencananya, festival yang akan digelar selama dua hari mulai tanggal 21 hingga 22 Juni 2026 tersebut akan menampilkan pameran seni yang terbagi ke dalam empat subtema unik, di antaranya:
1. Kamus Bahasa Sukolilo: Menampilkan istilah-istilah khas lokal yang akan disajikan secara interaktif, termasuk rencana penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) untuk memperdengarkan cara pengucapan aslinya.
2. Arsip Nelayan: Menyajikan informasi mengenai musim panen ikan dan kerupuk, jenis tangkapan, hingga teknik pengelolaan hasil laut tradisional seperti pembuatan cerebek.
3. Galeri Budaya: Dokumentasi tradisi gotong royong seperti cacar dan asal-usul kupatan, serta dinamika rapat paguyuban nelayan.
4. Nelayan Melawan: Sebuah lorong narasi yang memotret perjuangan nelayan, termasuk dokumentasi aksi penolakan reklamasi dan harapan-harapan mereka terhadap kelestarian laut.
Selain pameran, SEA FEST 2026 juga akan dimeriahkan dengan panggung pentas seni yang melibatkan anak-anak pesisir dan komunitas luar, serta ruang diskusi lantai tiga yang menghadirkan akademisi dan pakar lingkungan. Sebagai penutup, acara akan diakhiri dengan tradisi potong tumpeng dan makan bersama seluruh warga sebagai simbol syukur.
Jiddah mengungkapkan "Melalui kegiatan ini, Pojok Literasi berharap suara nelayan Surabaya tidak hanya terdengar di pinggiran, tetapi mampu menjadi bagian penting dalam kebijakan perlindungan wilayah pesisir di masa depan". (Bunda Tri)

No comments:
Post a Comment