Rilis Buku 'Cerita Ragil Mbarep', Sri Puri Surjandari Persembahkan Karya untuk Sahabat dan Wujud Cinta Tanpa Syarat
Surabaya — Sebuah karya sastra yang lahir dari ketulusan hati kembali mewarnai dunia literasi tanah air. Dra. Sri Puri Surjandari, M.Si. resmi menerbitkan buku memoar terbarunya yang berjudul Cerita Ragil Mbarep. Menariknya, buku ini dicetak khusus dan dikirimkan melalui jasa ekspedisi J&T sebagai hadiah rindu bagi para sahabat karib yang selama ini selalu mendukung perjalanan hidupnya.
Lulusan S2 Ilmu Komunikasi kelahiran 30 Juni 1964 ini mengungkapkan bahwa buku tersebut merupakan rangkuman catatan harian seorang ibu (Emak). Karya ini ia dedikasikan sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas tali silaturahmi yang ia maknai secara mendalam.
"Emak kirim buat kalian semua yang selalu mendukung Emak dan selalu menganggap pertemanan adalah bentuk cinta semesta. Sehat-sehat semua ya kalian para pecinta yang aku cintai," tutur Puri dengan penuh kehangatan.
Lahir dari Ruang Rawat dan Cinta Tanpa Syarat
Di balik lembar-lembar kisahnya yang jenaka sekaligus mengharukan, proses penulisan buku ini menyimpan cerita perjuangan yang luar biasa. Seluruh proses kreatif penulisan memoar dan novelnya dilakukan oleh Puri di sela-sela waktu merawat sang suami, Ir. Dwiatmono Agus Widodo, M.Sc., yang akrab ia sapa "Pak Bos", di kala sakit.
Demi mendampingi sang suami tercinta, Puri rela melepaskan seluruh jam mengajarnya sebagai dosen dan menepikan hobi berjalan-jalannya di masa lalu. Ruang rawat dan sudut rumah berganti menjadi ruang kerja yang produktif. Sambil menemani sang suami, Puri duduk bersimpuh (ndeprok) membuat kerajinan lukisan kain perca, lalu membuka laptop untuk merajut kata demi kata menjadi sebuah buku.
Bagi Puri, mendampingi suami dalam segala kondisi adalah wujud nyata dari cinta tanpa syarat. Kehadirannya di sisi suami menjadi kekuatan, sementara tulisan-tulisannya menjadi terapi jiwa sekaligus warisan ingatan bagi keluarga.
Surat Cinta untuk Anak-Anak di Rantau
Fokus utama dalam Cerita Ragil Mbarep menyoroti kedekatan emosional Puri dengan kedua putra laki-lakinya yang kini telah dewasa dan menetap di Jakarta. Melalui buku ini, Puri ingin mengingatkan kedua putranya agar tidak pernah lupa akan akar tempat mereka bertumbuh.
Buku ini merekam potret pengorbanan yang luar biasa dari anak-anaknya. Mulai dari kisah si sulung "Mbarep" (34 tahun) yang rela terbang 35 jam dari Italia demi menghadiri wisuda adiknya, hingga ketulusan si bungsu "Ragil" (30 tahun) yang rela melewatkan Ujian Akhir Semester (UAS) di Universitas Indonesia (UI) demi menjaga sang ayah di rumah sakit.
Melalui buku yang menyusul kesuksesan novel pertamanya, NaiNai Dhodhori, Sri Puri Surjandari tidak hanya mengirimkan sebuah bacaan, tetapi juga menyebarkan pesan universal: bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang, dan persahabatan sejati adalah hadiah terindah dari semesta. (Bunda Tri)


No comments:
Post a Comment