Gema Perlawanan dari Pesisir: Puluhan Perahu Nelayan Gelar Aksi Demonstrasi Tolak Reklamasi di Laut Kenjeran
Aksi Nelayan Sukolilo Baru Tolak Reklamasi
Surabaya — Puluhan perahu nelayan tradisional Sukolilo memadati kawasan perairan Selat Madura dalam aksi demonstrasi di atas Laut Kenjeran, Surabaya, pada Minggu, 21 Juni 2026. Aksi bentang spanduk di tengah laut ini menjadi puncak dari rangkaian gerakan sosial Literasea Fest 2026 yang digagas untuk menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) Surabaya Waterfront Land (SWL).
Masyarakat pesisir menilai megaproyek reklamasi tersebut berpotensi besar merenggut ruang hidup, mata pencaharian, serta kebudayaan lokal mereka. Sambil mengemudikan perahu, para nelayan membacakan pernyataan sikap dan mengumandangkan yel-yel penolakan yang bergema di sepanjang garis pantai.
Ancaman Nyata Bagi Ruang Hidup Nelayan
Rencana reklamasi pesisir timur Surabaya dinilai merugikan masyarakat lokal secara ekonomi dan ekologis. Koordinator aksi menegaskan lima poin keberatan utama dari komunitas nelayan terkait proyek ini:
- Hilangnya wilayah tangkap: Kawasan yang akan diuruk merupakan area utama nelayan mencari ikan dan biota laut.
- Kerusakan ekosistem: Reklamasi mengancam kelestarian hutan mangrove serta memicu perubahan arus laut yang berisiko menyebabkan sedimentasi.
- Aspirasi diabaikan: Hingga saat ini, suara dan keberatan dari para nelayan selaku pihak terdampak langsung belum menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan proyek.
Aksi turun ke laut ini juga mendapat solidaritas dari berbagai elemen mahasiswa dan pemuda. Perwakilan mahasiswa yang hadir menyatakan bahwa nelayan memiliki hak konstitusional atas perlindungan ekonomi dan keberlanjutan usaha yang dijamin oleh undang-undang.
Edukasi Budaya Melalui Literasea Fest
Selain aksi demonstrasi di laut, perlawanan kreatif juga ditunjukkan melalui kegiatan budaya di darat. Kawasan Kampung Sukolilo VI dipenuhi dengan dekorasi poster, panggung diskusi, dan seni mural pesisir yang membawa pesan-pesan perjuangan warga.
Melalui Literasea Fest 2026, panitia sengaja mengenalkan kembali kearifan lokal serta budaya bahari kepada generasi muda. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu memperluas dukungan publik agar rencana pembangunan yang merusak lingkungan pesisir Surabaya dapat segera dibatalkan. (Bunda Tri)

No comments:
Post a Comment