Nelayan Sukolilo Baru Surabaya Suarakan Keresahan atas Proyek PSN Surabaya Waterfront Land Senilai Rp72 Triliun - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

05/06/2026

Nelayan Sukolilo Baru Surabaya Suarakan Keresahan atas Proyek PSN Surabaya Waterfront Land Senilai Rp72 Triliun

Nelayan Sukolilo Baru Surabaya Suarakan Keresahan atas Proyek PSN Surabaya Waterfront Land Senilai Rp72 Triliun

Suasana diskusi di TBM Yayasan Avicenna Berkah 


Surabaya – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar diskusi dua arah bersama para nelayan tradisional di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Yayasan Avicenna Berkah, Kampung Nelayan Sukolilo Baru, Bulak, Surabaya, Jumat malam (5/6). Hingga berita ini diturunkan, forum tersebut masih berlangsung hangat membahas masa depan ruang hidup warga pesisir yang terancam oleh rencana megaproyek reklamasi.

Diskusi ini mengerucut pada penolakan warga terhadap proyek Surabaya Waterfront Land (SWL). Proyek tersebut merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digarap oleh PT Granting Jaya dengan nilai investasi fantastis mencapai Rp71 hingga Rp72 triliun. Pembangunan ini direncanakan bakal mereklamasi wilayah pesisir seluas lebih dari 1.000 hektare yang mencakup kawasan Kenjeran hingga Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) guna membangun kawasan pesisir terpadu.


Acara dipimpin langsung oleh Maysha selaku Ketua Pelaksana dengan didampingi oleh dua pengurus IMM UNAIR, Qila dan Bilqis. Kegiatan ini juga didukung penuh oleh Tim Pojok Literasi yang berkomitmen mengawal aspirasi masyarakat pesisir lewat pendekatan akademis dan advokasi sosial.

Di awal sesi, Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan setempat, Abdul Rochim, memulai kisah suka dukanya sebagai nelayan asli Pasuruan yang kemudian menetap setelah menikah dengan anak nelayan Sukolilo Baru. Ia memaparkan bahwa laut Surabaya merupakan urat nadi ekonomi keluarganya secara turun-temurun. Kesaksian serupa disampaikan oleh Anang, mantan Ketua RW 02 Kelurahan Sukolilo Baru. Anang yang semula bekerja sebagai satuan pengamanan (satpam) memutuskan beralih profesi menjadi nelayan guna menggantikan posisi ayahnya.

Namun, situasi forum berkembang menjadi penuh ketegangan emosional saat para nelayan membeberkan realitas di lapangan. Mereka mengeluhkan hasil tangkapan laut yang dirasakan kian merosot tajam dari hari ke hari. Kondisi ini diperparah oleh bayang-bayang proyek SWL yang hingga kini pembahasannya belum menemui titik terang bagi nasib para nelayan kecil.

Para nelayan menilai, proyek pengurukan laut seluas ribuan hektare tersebut berpotensi besar merusak ekosistem mangrove di Pamurbaya serta mematikan akses mereka untuk mencari nafkah. Diskusi yang masih berjalan malam ini menjadi momentum konsolidasi bagi nelayan dan mahasiswa untuk merumuskan langkah perjuangan berikutnya demi mempertahankan wilayah tangkapan mereka. (Bunda Tri)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages