Tradisi Mayoran di Pesantren Perlu Bertransformasi Demi Pemenuhan Gizi Seimbang Santri - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

22/07/2026

Tradisi Mayoran di Pesantren Perlu Bertransformasi Demi Pemenuhan Gizi Seimbang Santri

 Tradisi Mayoran di Pesantren Perlu Bertransformasi Demi Pemenuhan Gizi Seimbang Santri



Surabaya – Tradisi mayoran yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan di pondok pesantren dinilai memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Selain mempererat kebersamaan antarsantri, tradisi makan bersama dalam satu nampan tersebut juga menjadi simbol kesederhanaan dan rasa syukur. Namun, di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan remaja, tradisi ini dinilai perlu bertransformasi agar mampu mendukung pemenuhan gizi seimbang bagi para santri. 22/7/2026

Dalam praktik mayoran, para santri makan bersama menggunakan satu nampan dengan lauk yang sama. Tradisi tersebut tidak hanya mencerminkan semangat kebersamaan, tetapi juga mengajarkan nilai solidaritas, empati, serta menghilangkan sekat sosial di lingkungan pesantren. Meski demikian, pola makan yang disajikan secara kolektif berpotensi membatasi variasi makanan sehingga kebutuhan zat gizi belum tentu terpenuhi secara optimal.

Sejumlah penelitian yang dikutip dalam artikel menunjukkan bahwa persoalan gizi di lingkungan pesantren masih menjadi perhatian. Keterbatasan variasi makanan menyebabkan konsumsi santri lebih banyak didominasi karbohidrat, sementara asupan protein, vitamin, dan mineral relatif rendah. Kondisi tersebut berisiko memengaruhi status gizi, terutama bagi remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan energi serta zat gizi yang lebih tinggi.

Artikel tersebut juga mengungkapkan bahwa kualitas dan kecukupan asupan energi maupun protein memiliki hubungan erat dengan status gizi santri. Oleh karena itu, pemenuhan gizi seimbang dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan, kesehatan, dan kemampuan belajar para santri selama menempuh pendidikan di pesantren.

Meski demikian, penulis menegaskan bahwa tradisi mayoran bukanlah penyebab utama permasalahan gizi. Sebaliknya, tradisi tersebut dipandang sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana perubahan perilaku makan yang lebih sehat melalui pendekatan sosial dan budaya yang telah mengakar di lingkungan pesantren.

Transformasi dapat dilakukan tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur mayoran. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas menu melalui penambahan sumber protein, seperti tempe, tahu, telur, atau ikan, serta memperbanyak variasi sayuran. Upaya tersebut tetap dapat dilakukan tanpa meninggalkan prinsip kesederhanaan yang menjadi ciri khas kehidupan pesantren.

Selain perbaikan menu, edukasi gizi yang dikemas melalui pendekatan religius juga dinilai penting. Dalam budaya pesantren, menjaga kesehatan dipandang sebagai bagian dari amanah yang harus dipelihara. Oleh karena itu, pemenuhan gizi seimbang tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah. Dukungan dari pengasuh pesantren, seperti kiai dan ustaz, juga dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan makan sehat di kalangan santri.

Pada akhirnya, tradisi mayoran diharapkan tetap menjadi identitas budaya pesantren sekaligus mampu beradaptasi dengan kebutuhan kesehatan masyarakat modern. Dengan demikian, pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan moral dan keagamaan, tetapi juga menjadi pelopor dalam membangun budaya makan sehat yang tetap berlandaskan nilai kebersamaan dan keberkahan. (Salsabila Romadona)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages