Drama Kolosal BEM UNAIR Pukau Warga Sukolilo Baru, Potret Kehidupan Nelayan hingga Inovasi Digital Berlandaskan Empat Pilar Bangsa - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

27/09/2026

Drama Kolosal BEM UNAIR Pukau Warga Sukolilo Baru, Potret Kehidupan Nelayan hingga Inovasi Digital Berlandaskan Empat Pilar Bangsa

Drama Kolosal BEM UNAIR Pukau Warga Sukolilo Baru, Potret Kehidupan Nelayan hingga Inovasi Digital Berlandaskan Empat Pilar Bangsa

Panggung Rakyat Aksara UNAIR 2026

Surabaya — Puncak rangkaian program pengabdian masyarakat Airlangga Dekat Masyarakat Surabaya (AKSARA 2026) yang digagas oleh Kementerian Pengabdian Masyarakat BEM Universitas Airlangga (UNAIR) ditutup dengan sebuah pergelaran seni yang memukau. Sebuah drama kolosal yang dimainkan secara total oleh para mahasiswa sukses menyedot perhatian ratusan warga di sepanjang jalan raya kawasan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, pada Minggu malam, 27 September 2026.
Pertunjukan teater terbuka tersebut mengangkat realitas emosional dan dinamika kehidupan peras keringat masyarakat pesisir di Kampung Nelayan RW 002. Dengan latar panggung yang disulap menyerupai ruang komunal sederhana berpencahayaan temaram, masing-masing karakter tampil sangat impresif dan menjiwai peran mereka. Adegan pembuka langsung menyentuh empati penonton saat para pemeran mengeluhkan getirnya jerat ekonomi akibat kondisi melaut yang pasang surut.
"Gusti... segoro lagi pergo (surut), jaring yo podo suwek. Yen ngene terus, piye carane ngliwet kanggo sesuk isuk?" ratap salah satu mahasiswa yang berperan sebagai istri nelayan tua sembari memeluk wadah pangan yang kosong.
Alur cerita kemudian bergerak dinamis ketika karakter pemuda progresif muncul membawa secercah harapan di tengah keputusasaan warga. Ia melontarkan gagasan konkret untuk menaikkan nilai ekonomi tangkapan laut melalui inovasi produk turunan berupa hilirisasi kuliner khas pesisir, yakni melakukan branding Bola Udang serta menerapkan strategi pemasaran digital (digital marketing).
"Kene ora iso mung pasrah karo ombak, Mak! Udang tangkapan kene kudu diolah dadi Bola Udang sing duwe merek, banjur dipasarkan online lewat handphone. Biar wong soko kota pating pecothot tuku produk asli Sukolilo Baru!" seru karakter pemuda tersebut dengan tangan mengepal ke udara, memecah kebuntuan dialog.
Bagian paling esensial dari drama kolosal ini terletak pada konklusinya. Para mahasiswa BEM UNAIR secara cerdas merajut pemecahan masalah ekonomi tersebut dengan konsep Kampung Pancasila. Inovasi dan kemandirian ekonomi yang lahir dari kerja sama kelompok warga ini dikaitkan langsung sebagai pengamalan nyata dari 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). Perbedaan latar belakang ego sektoral luntur oleh semangat gotong royong demi menjaga kedaulatan pangan wilayah.
Aksi teatrikal yang sarat pesan moral dan dipenuhi cuplikan dialog menyentuh ini menuai pujian luas, termasuk dari Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Bulak, Indah Nurhayati, yang menyaksikan jalannya acara dari barisan depan. Melalui media seni peran, mahasiswa UNAIR dinilai berhasil menyampaikan pesan kebangsaan dan edukasi digital secara substansial, sekaligus meninggalkan kenangan yang mendalam bagi seluruh masyarakat pesisir Sukolilo Baru. (Bunda Tri)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages