Kesunyian Seorang Pustakawan: Sunyi di Ruang Ber-AC, Sepi di Lapangan Akar Rumput - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

08/09/2026

Kesunyian Seorang Pustakawan: Sunyi di Ruang Ber-AC, Sepi di Lapangan Akar Rumput

 

Kesunyian Seorang Pustakawan: Sunyi di Ruang Ber-AC, Sepi di Lapangan Akar Rumput



Oleh: Tri Eko Sulistiowati
Esai Human Interest & Potret Komunitas
SURABAYA — Bagi sebagian orang, perpustakaan adalah labirin sunyi tempat lembar-lembar kertas bisu menunggu dibaca. Namun bagi Wibowo Purnomohadi, buku adalah medan laga, sekaligus ruang sunyi yang kerap menguji batas paling rapuh dari ketabahan seorang manusia.
Lelaki yang akrab disapa Pak Wib ini bukan orang baru di dunia literasi. Langkah kakinya telah bergaung di lorong-lorong perpustakaan sejak ia masih mengenakan jaket mahasiswa, menjaga ketenangan Perpustakaan Masjid Nuruzzaman Universitas Airlangga pada paruh awal tahun 90-an. Lulus pada tahun 1995, takdir menuntunnya menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN)—sebuah predikat mentereng yang ironisnya kini justru kerap memantik kegelisahan di dalam batinnya sendiri.
Sebagai pustakawan senior di Perpustakaan Umum Kota Surabaya, ia adalah saksi hidup dari rutinitas birokrasi yang dingin. Di sela-sela obrolan lewat layar digital pada suatu hari di bulan September 2026, kalimatnya mengalir jernih, membedah realitas yang tak selalu seindah slogan pemerintah.
“Saya di posisi yang kurang simpati dengan kantor saya sendiri,” akunya jujur, tanpa tedeng aling-aling. Nada suarama dalam ketikannya merekam kekecewaan yang mendalam. “Mereka itu pemerintah, harusnya mengayomi semua masyarakat yang mau berjibaku membantu pencerdasan rakyat.”
Kekecewaan itu memuncak ketika mendapati kenyataan betapa lambannya roda birokrasi bergerak untuk merespons ketulusan dari bawah. Surat-surat permohonan arahan dan sinergi dari para penggerak literasi di lapangan sering kali mengendap berminggu-minggu di atas meja dinas, sunyi tanpa konfirmasi, membentur tembok dingin ketidakpedulian.
Bagi Pak Wib, ada jurang pemisah yang lebar antara "pejuang lapangan" dan mereka yang mengurusi literasi dari balik meja. “Itu kenapa dari awal, saya paling anti dengan ASN di perpus. Mereka bukan pejuang di lapangan. Sukanya seminar di ruang ber-AC dan makan di hotel. Jadi beda pola pandangnya,” tuturnya tajam, merefleksikan otokritik yang langka dari seorang abdi negara.

'Mengungsi' dan Membawa Lentera ke Tanah Baru

Lantaran sepakterjang dan idealismenya yang kerap dianggap angin lalu di Surabaya, Pak Wib memilih menepi. Ia membawa cintanya pada buku menyeberangi batas kota, "mengungsi" ke Sidoarjo. Di tanah baru itu, ia mendirikan Perpustakaan Amrina Rosyada Indonesia (PARI), sebuah perpustakaan pribadi yang ia ikhlaskan untuk menjadi ruang publik bagi siapa saja yang haus akan pengetahuan.
"Tak banyak pustakawan yang juga pemilik perpustakaan atau taman bacaan. Tapi bejibun dokter yang punya klinik atau rumah sakit, guru punya sekolah atau lembaga kursus. Kenapa? Karena mereka hanya pandai menyuruh membaca, tapi dirinya sendiri tak suka baca."
— Wibowo Purnomohadi
Garis hidup kemudian membawanya terpilih menjadi ketua Rukun Warga (RW) setempat. Jabatan baru ini ia pandang sebagai kesempatan emas untuk menyemai benih-benih baca. Namun, kenyataan di lapangan kembali menamparnya dengan sunyi yang lain. Ia mendapati bahwa warga di sekelilingnya masih sangat "primitif" dalam urusan literasi.
Bahkan ketika ia berhasil mendatangkan Gol A Gong—salah satu maestro literasi dan Duta Baca Indonesia—ke wilayah RW-nya, sambutan masyarakat justru anyep. Panggung yang ia siapkan dengan peluh, sepi dari simpatisan warga. Masyarakat bergeming, tetap asing dengan tumpukan buku yang ditawarkan.
“Ya saya cuek saja. Memang kita harus sabar. Itu hikmah yang saya simpulkan,” kenangnya dengan nada pasrah namun teguh.

Hikmah Secuil Pengikut: Bertahan dalam Doa dan Tawakal

Di titik nadir perjuangan yang sunyi itu, Pak Wib memilih berkaca pada sejarah spiritualitas manusia. Baginya, jalan literasi ini menyerupai jalan sunyi para nabi.
Ia merenung tentang kisah para utusan Tuhan yang berdakwah selama berabad-abad, namun pada akhirnya hanya mendapatkan segelintir pengikut. Ia mengingat kisah paman Nabi yang sedemikian dicintai, namun hingga akhir hayatnya tak mampu dijemput menuju hidayah.
“Artinya, kewajiban kita cuman berusaha. Hasilnya kita harus berserah. Tawakal saja,” ucapnya lirih. Kalimat itu bukan sebuah kepasrahan yang kalah, melainkan sebuah bentuk ketetapan hati yang paling purba. “Kita bukan penentu perubahan, tapi hanya berjerih payah membangun perubahan.”
Sejak tahun 1995 hingga detik ini di tahun 2026, sudah puluhan tahun Pak Wib menyaksikan pasang surutnya minat baca bangsa ini. Rakyat, di matanya, dari dulu hingga sekarang seolah masih begini-begini saja jika berhadapan dengan lembaran buku. Namun, jika esok pagi matahari terbit, Anda akan tetap menemukannya di sana: di antara rak-rak buku Yayasan PARI, menyapu debu, menata harapan, dan menunggu dengan sabar barangkali ada satu atau dua anak kecil yang datang untuk memanjat rak buku demi melihat dunia.
Sebab bagi seorang Wibowo Purnomohadi, selama masih ada satu orang anak yang sudi membuka lembaran buku, maka perjalanan sunyi puluhan tahun itu tidak akan pernah menjadi perjalanan yang sia-sia. (*)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages