Bukan Laptop, Hanya Layar HP dan Sinyal yang Hilang-Timbul: Perjuangan Sunyi Dua Srikandi Humas di Balik 17 Berita Apel Akbar GPAI - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

17/05/2026

Bukan Laptop, Hanya Layar HP dan Sinyal yang Hilang-Timbul: Perjuangan Sunyi Dua Srikandi Humas di Balik 17 Berita Apel Akbar GPAI

 Bukan Laptop, Hanya Layar HP dan Sinyal yang Hilang-Timbul: Perjuangan Sunyi Dua Srikandi Humas di Balik 17 Berita Apel Akbar GPAI

Tri Eko Sulistiowati dan Sariyul Hikmah (kanan) Duo Humas Apel Akbar KKG PAI Provinsi Jawa Timur 

Surabaya – Sabtu, 16 Mei 2026, Gedung Indoor Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya berguncang oleh gemuruh suara 10.100 Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) se-Jawa Timur. Namun, di sudut tribun yang bising, ada perjuangan sunyi yang menguras air mata dan tenaga. Di sanalah saya—Tri Eko Sulistiowati, wartawati lepas—bersama sahabat sekaligus rekan duet Humas saya, Sariyyul Hikmah dari KKG PAI Kota Surabaya, bertaruh dengan waktu demi mengabarkan syiar luar biasa ini kepada dunia.

Masyarakat umum mungkin mengira kami bekerja dengan fasilitas mewah, duduk tenang di ruang pers yang sejuk dengan laptop berspesifikasi tinggi. Nyatanya, kenyataan di lapangan sungguh jauh dari bayangan itu. Senjata kami hari itu bukanlah laptop, melainkan hanya layar kecil telepon genggam (HP) yang kami genggam dengan jemari yang mulai kaku dan gemetar karena lelah.

Perjuangan kami kian dramatis saat menyadari bahwa dinding-dinding beton GBT yang megah ternyata menjadi musuh tak kasat mata. Sinyal internet di dalam arena mendadak lumpuh total, hilang-timbul tak menentu akibat berjejalnya belasan ribu manusia di satu titik. Sementara itu, tuntutan agar berita segera tayang (real-time) terus mengejar tanpa ampun.

Mondar-Mandir Menembus Batas Lelah Demi Sinyal
Demi mengejar satu demi satu baris kalimat agar bisa mengudara, kami terpaksa harus mondar-mandir, keluar-masuk arena pertandingan. Kaki yang sudah terasa pegal harus terus melangkah, setengah berlari mencari titik-titik ruang terbuka di luar stadion di mana sinyal internet bersedia muncul setitik demi setitik. Begitu indikator sinyal di layar HP penuh, di sanalah kami langsung berhenti—entah sambil berdiri bersandar di tiang atau berjongkok di selasar—hanya demi menekan tombol 'publish'.

Setelah satu berita berhasil tayang di blog KIM BAHARI, saya harus segera membalikkan fokus pikiran. Dengan peluh yang bercucuran dan dada yang kembang kempis menahan napas, saya kembali berlari masuk ke dalam gedung untuk menangkap momen-momen sakral acara, lalu mengetik cepat di layar HP, dan kembali berlari keluar gedung untuk mencari sinyal agar berita bisa masuk ke blog KKG PAI Kota Surabaya.

Sepanjang rangkaian pra-acara sejak survey lokasi sekaligus koordinasi di H-3 hingga puncak acara hari itu, 27 berita berhasil saya lahirkan di KIM BAHARI. Namun, lompatan magis justru terjadi di blog KKG PAI Kota Surabaya, di mana kolaborasi kilat saya dan Bu Sari berhasil menayangkan total 17 berita dalam waktu yang sangat singkat! Kecepatan mengetik di layar HP yang di luar nalar ini akhirnya melahirkan pengakuan jujur dan menyentuh dari Bu Sari di akun sosial resminya:
"Orang kalau lihat saya menulis, selalu dibilang, 'Cepet tenan nulise. Opo ae dadi tulisan kalau sama Bu Sari.' Tapi giliran saya ketemu wartawati lepas, Love Suroboyo, Bu Tri Eko Sulistiowati, 1 event bisa jadi 17 berita. Padahal Beliau juga menulis untuk dua blog saat itu. Saya baru nulis 1, beliau sudah 3 tulisan. Angkat topi dech."

Air Mata Kepuasan di Bawah Langit Surabaya
Membaca tulisan Bu Sari, pertahanan emosi saya runtuh. Rasa perih di mata karena menatap layar HP berjam-jam, rasa pegal di kaki akibat mondar-mandir menembus kerumunan massa, dan kepanikan setiap kali sinyal ponsel mendadak hilang, seketika menguap digantikan oleh rasa haru yang membuncah. Saat Bu Sari baru menyelesaikan satu naskah, tiga tulisan saya sudah berhasil menembus ruang digital lewat perjuangan mencari sinyal di luar gedung.

Melalui 17 berita yang lahir dari ketukan jemari di layar HP tersebut, kami berdua tidak sekadar menyajikan data mentah. Kami sedang mengabadikan ruh perjuangan para guru agama, air mata haru Ketua KKG PAI Jatim Moch. Zaini, hingga pesan moderasi beragama dari Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag.

Ketika siang makin panas dan area GBT berangsur sepi, kami berdua terduduk lemas dengan baterai HP yang nyaris habis. Namun, ada senyum kepuasan yang terukir di wajah kami yang kuyu. Sebanyak 17 prasasti digital telah tertata rapi di beranda KKG PAI Kota Surabaya. Kami telah membuktikan bahwa keterbatasan alat dan buruknya sinyal tidak akan pernah mampu menghentikan langkah dua srikandi Humas untuk mengabarkan dedikasi luhur Guru PAI kepada dunia. (Penulis : Tri Eko Sulistiowati/GPAI Surabaya)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages