Kobaran Api di Ujung Dompet - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

06/08/2026

Kobaran Api di Ujung Dompet

Kobaran Api di Ujung Dompet

Abstrak di Ujung Pintu
Suara tawa dari tenda sebelah terdengar riuh, kontras dengan gemuruh di dada Aqilah. Di dalam barak diklat yang pengap itu, ia hanya bisa menatap layar ponselnya dengan nanar. Jemarinya bergetar saat mengetik pesan, sementara matanya sesekali melirik sisa saldo di aplikasi perbankannya. Nol Rupiah. Kalimat itu seolah mengejeknya.
"Aku gak ada uang..." gumamnya lirih, mengulang kalimat yang baru saja ia kirimkan ke ruang obrolan.
Pikiran Aqilah langsung melayang ke kejadian beberapa jam lalu. Hari itu adalah jadwal sesi memasak mandiri untuk kelompok diklatnya. Sebagai anak yang terbiasa mandiri, Aqilah dengan percaya diri mengajukan diri. "Biar aku yang masak," ujarnya tadi pagi dengan senyum lebar.
Ia meletakkan kompor portabel merah merek Sanex di atas lantai keramik. Sebuah panci berisi air dan bahan makanan sudah bertengger di atasnya. Semuanya berjalan normal, sampai tiba-tiba terdengar suara desisan aneh yang melengking tajam dari arah tabung gas kaleng.
"Aqilah, itu suaranya kok aneh?" tegur salah satu teman satu kelompoknya, mulai waswas.
Belum sempat Aqilah memeriksa, sebuah bunyi DUARR! yang memekakkan telinga menghantam ruangan. Kompor itu meledak.
"Lari! Kebakaran! Kebakaran!" jeritan histeris langsung pecah.
Pintu barak yang sempit mendadak penuh sesak oleh puluhan peserta diklat yang berebut menyelamatkan diri. Dalam kepanikan massal itu, tubuh Aqilah bergerak sendiri. Insting bertahan hidup mengambil alih. Begitu api raksasa berwarna oranye pekat langsung menjilat udara, Aqilah secara spontan langsung melompat mundur untuk menjauhkan diri dari jilatan api.
Namun, dalam kepanikan yang luar biasa itu, langkah mundurnya terlalu keras dan tidak terkendali.
BRAK!
Tubuh Aqilah terlempar ke belakang. Punggungnya menghantam ujung pintu kayu barak yang keras dengan sangat telak. Benturan itu begitu kuat hingga sempat membuat napasnya tercekat selama beberapa detik. Di tengah riuhnya jeritan teman-temannya, kobaran api itu membumbung tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit barak. Tingginya tiga kali lipat dari tinggi kobaran yang sempat ia potret saat api mulai sedikit meredah. Hawa panasnya menyengat kulit wajah, memaksa air matanya keluar karena perihnya asap dan rasa takut yang luar biasa.
Konflik sebenarnya baru dimulai setelah api berhasil dipadamkan dengan kain basah.
Kompor piknik itu milik panitia diklat. Dengan sisa keberanian yang ada dan punggung yang mulai terasa linu, Aqilah dan seorang temannya membawa rongsokan merah itu ke tukang servis terdekat di luar area diklat, berharap ada keajaiban.
"Sudah gak bisa dibenerin ini, Neng. Dalemannya sudah meleleh semua, bahaya kalau dipaksakan," kata si Bapak tukang servis sambil menggelengkan kepala, menyerahkan kembali kompor yang sudah menghitam itu.
Kata-kata itu bak petir di siang bolong. Peraturan diklat sangat ketat: setiap kerusakan fasilitas akibat kelalaian peserta harus diganti rugi secara tunai hari itu juga.
"Gimana ini, Qilah? Aku juga lagi bokek banget bulan ini," bisik temannya dengan wajah pucat, mulai menyalahkan situasi. "Lagian tadi kamu yang megang kompornya kan?"
Tuduhan tersirat itu menusuk hati Aqilah. Ada rasa bersalah, takut, dan marah yang bercampur aduk. Mengapa musibah ini harus terjadi di saat ia sedang berjuang menyelesaikan diklatnya? Mengapa harus dia yang memegang kompor itu?
Mau tidak mau, setelah perdebatan panjang yang menguras emosi, mereka berdua terpaksa urunan. Aqilah menguras seluruh isi dompetnya, termasuk uang saku terakhir yang seharusnya ia gunakan untuk ongkos pulang dan makan hingga akhir pekan. Semua diserahkan demi seonggok besi rusak yang kini berakhir di tempat sampah.
Kembali ke masa sekarang, di sudut barak yang mulai sepi, Aqilah menggeser posisi duduknya. Rasa nyeri yang berdenyut tajam dari punggung bawahnya membuat matanya terpejam rapat. Ia mengusap bagian yang kebentur ujung pintu tadi, merasakan area yang kini mulai memar dan kaku.
Pelan-pelan, sebuah senyuman getir namun penuh rasa syukur terukir di wajahnya yang masih pucat. Ia kembali menatap layar ponsel, lalu mengetikkan baris kalimat terakhir untuk mengakhiri ceritanya di ruang obrolan.
"Dah pas meledak aku spontan mundur, dan mundurku terlalu keras. Akhirnya punggungku kebentur keras kena ujung pintu. Tapi alhamdulillahnya, gak ada yang luka parah," ketik Aqilah, lalu menekan tombol kirim.
Uang sakunya memang telah lari bersama abu kompor yang terbakar. Punggungnya pun mungkin akan terasa sakit hingga beberapa hari ke depan. Namun, menatap foto kobaran api di ponselnya sekali lagi, Aqilah sadar ia masih sangat beruntung. Di balik drama urunan uang dan trauma ledakan hari ini, ia pulang membawa sebuah hadiah terbesar: keselamatan dan kesempatan untuk hidup tanpa kurang suatu apa pun.(Nada)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages