Lentera dari Pesisir Kenjeran: Jejak Langkah dan Nyala Abadi Bunda Tri
Nurul Misbachah (jilbab coklat nomer 4 dari kanan) bersama bunda Tri dan LPKS BKPRMI Surabaya
Oleh: Nurul Misbacha
Surabaya — Angin pesisir Pantai Kenjeran sore itu berembus membawa aroma khas laut yang asin. Di sudut kampung nelayan Sukolilo Baru, ombak yang berkejar-kejar seolah berirama dengan derap langkah seorang wanita. Ia datang tidak dengan kemewahan, melainkan dengan senyum ranum dan sapaan hangat yang seketika mencairkan kekakuan. Di tempat di mana jaring nelayan dijemur dan harapan digantungkan, Bunda Tri Eko Sulistiowati, M.Pd., mengukir takdirnya sebagai penggerak hati masyarakat.
Kamis, 20 Agustus 2026, menjadi penanda waktu yang syahdu. Angka usia Bunda Tri resmi bertambah. Namun, bagi ibu dari tiga anak ini, raga yang menua hanyalah urusan kalender. Di dalam dadanya, sebongkah semangat justru kian berkobar, memijar melintasi batas-batas usia. Baginya, setiap helai rambut yang memutih adalah babak baru untuk memperluas kemanfaatan, memperkaya pengalaman, dan merajut jembatan kebaikan yang lebih panjang.
Di dekat deburan ombak Kenjeran, berdirilah sebuah bangunan kokoh: Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Yayasan Avicenna Berkah. Tempat itu bukan sekadar tumpukan batu bata yang menyimpan lembaran kertas berdebu. Di bawah asuhan tangan dingin Bunda Tri, bangunan itu menjelma menjadi sebuah oase literasi. TBM tersebut adalah ruang hidup tempat bermuaranya berbagai generasi; tempat anak-anak PAUD mengeja tawa, remaja merajut cita, dan para mahasiswa menyatukan idealisme.
"Ayo, kita mulai. Dengan berjalan, kita akan menemukan jalan," bisik Bunda Tri, sebuah kalimat yang kerap menjadi pemantik bagi jiwa-jiwa yang ragu.
Bagi sosok senior enerjik ini, literasi bukanlah dogma kaku tentang membaca buku teks. Literasi adalah seni membuka cakrawala pikiran, keberanian untuk berkarya, dan ketulusan untuk berbagi. Kepada setiap jemari muda yang memegang pena dengan gemetar, ia selalu membisikkan mantra magis: “Teruslah menulis dan menulislah terus.” Sebuah pesan sederhana bahwa lewat goresan tinta, seseorang sedang menanam benih kebaikan yang abadi, yang akan tetap hidup dan dibaca meski jasad telah tiada.
Kiprah sang srikandi tidak berhenti di tepian pasir pantai. Bersama BKPRMI Surabaya, langkah kakinya menjelajah jauh, melenting dari tingkat kota, menembus Jawa Timur, hingga bergaung di panggung nasional. Saat forum-forum mulai didera lelah dan atmosfer meredup sunyi, kehadiran Bunda Tri laksana embun pagi. Ia membawa tawa, memecah keheningan, dan menyuntikkan energi baru. Ketika orang lain masih sibuk menimbang dan berpikir, ia sudah melangkah di depan sembari berseru, "Ayo, kita bergerak!"
Sebuah kalimat ikonik yang selalu lekat di nadinya dan kerap membakar semangat kaum muda adalah: “Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Bagi generasi di bawahnya, untaian kata itu bukan sekadar retorika motivasi murahan. Kalimat itu adalah cambuk spiritual, sebuah pengingat bahwa merawat lingkungan dan sesama adalah tanggung jawab sejarah. Bunda Tri memberikan keteladanan paripurna bahwa menjadi senior bukanlah tentang duduk di kursi empuk dan menunjuk-nunjuk arah. Menjadi senior adalah tentang kerelaan untuk turun ke celah-celah kampung, berjalan beriringan, mendekap yang muda, membuka jalan, dan ikut berpeluh dalam pekatnya perjuangan.
Kini, di hari istimewanya, tulisan ini hadir bukan sekadar sebagai untaian kado ulang tahun yang klise. Ini adalah sebuah surat cinta dan rasa terima kasih yang tak terhingga dari hati yang paling dalam. Terima kasih, Bunda, karena telah menjadi suluh yang tak pernah bosan mengajak kami bergerak. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa hidup ini baru akan bermakna saat keberadaan kita mampu menjadi berkah bagi orang lain.
Selamat hari lahir, Bunda Tri. Semoga Allah SWT senantiasa memelukmu dalam kesehatan yang paripurna, melimpahkan umur yang penuh berkah, kekuatan, serta kebahagiaan yang tak bertepi di setiap tapak perjuangan. Semoga setiap butir peluh yang jatuh, setiap bait ilmu yang kau tebar, dan setiap jiwa yang kau bimbing menjelma menjadi amal jariyah yang mengalir tiada putus.
Sebab, perjuangan sejati tidak selalu lahir dari dentuman genderang yang besar. Kadang, ia bermula dari satu langkah kecil, satu lengkung senyuman, satu halaman buku, satu goresan tulisan, dan satu ajakan tulus untuk berbuat baik. Dan Bunda Tri telah memilih jalan sunyi yang indah itu: untuk terus melangkah dan menghidupkan kebaikan di tengah manusia.
“Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Tetaplah menyala, tetaplah menulis, dan teruslah menjadi lentera yang menginspirasi, Bunda!

No comments:
Post a Comment