Jejak Roda Sepeda di Pesisir Sukolilo: Kala Tawa Cak Mus dan Kerang Ajaib Memeluk Jiwa Bocah SMPN 54 - KIM BAHARI SUKOLILO BARU

Breaking

Post Top Ad

29/09/2026

Jejak Roda Sepeda di Pesisir Sukolilo: Kala Tawa Cak Mus dan Kerang Ajaib Memeluk Jiwa Bocah SMPN 54

Jejak Roda Sepeda di Pesisir Sukolilo: Kala Tawa Cak Mus dan Kerang Ajaib Memeluk Jiwa Bocah SMPN 54

Cak Mus Kampung Dolanan membuka acara eduwisata Bahari di TBM AVICENNA 

Penulis: Tri Eko Sulistiowati
Surabaya — Pagi baru saja merekah di langit Sukolilo Baru pada Senin, 28 September 2026. Suara derit rantai dan kayuhan puluhan roda sepeda tiba-tiba memecah keheningan jalanan pesisir. Dari kejauhan, tampak rombongan siswa SMPN 54 Surabaya mengayuh sepeda mereka beriringan, membelah angin laut yang membawa aroma asin khas Kampung Nelayan. Dengan tertib, deretan lambung sepeda itu diparkir berjajar rapi di halaman SD Muhammadiyah 9 Surabaya.
Langkah kaki mereka kemudian berlanjut, berjalan beriringan menyusuri gang menuju sebuah ruang penuh harapan: Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Yayasan Avicenna Berkah. Hari itu, lelahnya perjalanan mengayuh sepeda seketika menguap, digantikan oleh jalinan petualangan literasi luar ruangan bertajuk Eduwista Bahari 2026.
Kontrak Belajar dan Hentakan Sukacita Cak Mus
Suasana di dalam TBM Avicenna seketika berubah hidup saat sesosok pria bertopi orange dengan jaket kuning menyala melangkah ke depan kelas. Ia adalah Cak Mus dari Kampung Dolanan. Dengan senyumnya yang khas dan energi yang meluap-luap, ia langsung menyihir 59 siswa yang duduk bersila di lantai untuk masuk ke dalam dunia penuh permainan dan kegembiraan.
Sebelum pelayaran dimulai, Cak Mus berdiri tegak di depan banner bertuliskan "Jaring Literasi, Panen Edukasi". Ia tidak ingin kelas hari itu berjalan satu arah dan kaku. Dicabutnya sebuah kesepakatan dari antusiasme anak-anak—sebuah kontrak belajar yang lahir dari kerelaan.
"Adik-adik sekalian, sebelum kita mulai menjelajah laut dan meronce kerang, mari kita buat perjanjian. Selama di sini, tidak ada wajah yang cemberut. Kita harus sepakat untuk aktif, berani bertanya, dan saling menjaga temannya. Setuju?!" seru Cak Mus, suaranya lantang memecah ruangan.
"Setujuuuu, Cak!" jawab 55 siswa gelombang pertama kegiatan eduwisata Bahari serempak, disusul tepuk tangan riuh yang bergemuruh memenuhi ruangan TBM.
Energi yang ditularkan Cak Mus lewat ice breaking dan permainan tradisional interaktif terbukti ampuh. Lelah di wajah anak-anak yang baru saja menempuh perjalanan bersepeda runtuh seketika, digantikan oleh tawa renyah dan binar mata yang menyala penuh semangat.
Meronce Kenangan dari Serpihan Pesisir
Petualangan pun bergulir. Anak-anak pesisir itu diajak bersentuhan langsung dengan kekayaan laut mereka sendiri melalui sesi prakarya. Di hadapan mereka, ribuan kulit kerang putih yang telah dilubangi rapi siap dirangkai. Dibimbing oleh para mentor lapangan, jemari mungil para siswa mulai sibuk memasukkan benang ke dalam lubang-lubang kecil kerang, merajutnya satu demi satu menjadi seuntai kerajinan tangan estetik.
"Cak, lihat! Punya saya sudah jadi! Ternyata susah-susah gampang ya, tapi seru banget kalau sudah kelihatan bentuk ronceannya," ucap seorang siswa laki-laki bertopi sekolah sembari memamerkan hasil roncean kerangnya dengan senyum bangga yang merekah.
Cak Mus menghampiri, menepuk pundak sang siswa dengan hangat. "Hebat! Kamu tahu tidak? Dari serpihan limbah kerang yang tadinya terbuang di pinggir pantai ini, tangan kreatifmu bisa mengubahnya jadi karya yang punya nilai. Ini namanya literasi hidup!"
Mengarungi Ombak dan Memburu Kisah dalam Buku
Puncak petualangan luar ruangan tiba saat matahari mulai meninggi. Mengenakan rompi keselamatan jingga milik TBM Avicenna, para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk menaiki empat perahu nelayan yang dikomandoi oleh Pak Ropik dan Cak Nan. Debur ombak dangkal pesisir Sukolilo menyambut haluan perahu yang bergerak perlahan.
Bagi kelas yang sedang menunggu giliran berlayar di dermaga, tugas mereka tidak kalah menantang. Dengan gawai di tangan, mereka bergerak melakukan gerilya jurnalistik; mewawancarai warga kampung nelayan tentang pahit manis kehidupan pesisir sembari merekam aktivitas vlog (ngevlog) lingkungan. Lembar Kerja Siswa (LKS) dipenuhi coretan tinta hasil wawancara, yang nantinya siap diramu menjadi sebuah buku antologi karya orisinal siswa SMPN 54 Surabaya.
Jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika doa bersama menutup seluruh rangkaian acara. Lembar absensi guru dan siswa telah terdokumentasi dengan rapi. Anak-anak itu berjalan kembali menuju parkiran sepeda dengan mendekap seuntai kerajinan kerang di tangan mereka. Eduwista Bahari gelombang pertama hari itu telah usai, namun gairah belajar, tawa lepas dari permainan Cak Mus, serta kedekatan emosional dengan semesta bahari akan terus terkayuh di dalam ingatan mereka, sejauh roda sepeda mereka menggelinding pulang. (*)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages